Kotoran Telinga Bisa Mengganggu Pendengaran, Benarkah?

Kotoran Telinga Bisa Mengganggu Pendengaran, Benarkah?

Sahabat Hermina, rasa tidak nyaman pada telinga merupakan salah satu masalah yang banyak dikeluhkan oleh pasien. Kondisi ini dapat dapat disebabkan oleh peradangan dan infeksi pada liang telinga, sumbatan benda asing, gangguan saraf pendengaran, infeksi dan peradangan pada telinga bagian tengah dan dalam. Salah satu penyebab yang banyak ditemukan dalam praktik sehari-hari adalah impaksi serumen atau lebih dikenal luas sebagai sumbatan akibat kotoran telinga.

Serumen merupakan produk yang dihasilkan oleh kelenjar pada liang telinga yang bercampur dengan lapisan sel kulit sudah mati. Produksi serumen merupakan proses yang normal. Zat ini berfungsi sebagai pelindung dari infeksi bakteri, kotoran maupun air. Normalnya, serumen yang dihasilkan akan dikeluarkan secara spontan dari liang telinga melalui mekanisme gerakan rahang secara perlahan dengan kecepatan sekitar 2 mm per bulan. Apabila mekanisme ini pengeluaran ini gagal, maka serumen akan terkumpul di dalam liang telinga, yang disebut sebagai impaksi serumen.

Penumpukan serumen ini akan menyebabkan penyumbatan pada liang telinga baik sebagian ataupun seluruhnya. Hal ini menyebabkan kesulitan saat dilakukan pemeriksaan liang telinga, gendang telinga, ataupun sistem pendengaran dan keseimbangan (audiovestibular).

Impaksi serumen dapat terjadi tanpa menimbulkan gejala (asimptomatik) ataupun dapat ditandai dengan gejala klinis berupa penurunan perdengaran, sensasi penuh pada telinga, sensasi berdenging (tinnitus), nyeri telinga, gatal telinga, pusing berputar/pusing 7 keliling (vertigo). Kondisi ini dapat didiagnosis melalui pemeriksaan telinga oleh dokter, yaitu dengan ditemukan tumpukkannya kotoran telinga berwarna coklat kehitaman dan penurunan pendengaran melalui pemeriksaan audiometri dengan tingkat keparahan yang bergantung pada derajat sumbatan liang telinga.

Pengobatan yang dapat dilakukan pada kondisi serumen impaksi meliputi pemberian bahan pelunak serumen, ekstraksi serumen dengan irigasi maupun secara manual. Bahan pelunak serumen dapat digunakan sebelum irigasi untuk melunakkan serumen. Teknik ekstraksi dengan irigasi dilakukan dengan mengalirkan air ke belakang serumen melalui celah antara serumen dan dinding liang telinga, kemudian air tersebut akan mengalir kembali ke luar, sehingga mendorong serumen keluar. Metode ekstraksi dengan irigasi tidak dapat dilakukan jika terdapat lubang pada gendang telinga dan terjadi penyumbatan total.

Ekstraksi serumen secara manual biasanya dilakukan dengan menggunakan pengait ataupun alat penyedot. Metode ini lebih dipilih pada pasien dengan riwayat operasi telinga sebelumnya ataupun gendang telinga yang mengalami robekan.

Penting diketahui bahwa serumen merupakan suatu produk yang normal, dan secara normal akan keluar dengan sendirinya. Sehingga tidak disarankan untuk membersihkan telinga sendiri dengan menggunakan cotton bud karena dapat mendorong serumen semakin ke dalam. Selain itu, penggunaan cotton bud juga dapat meningkatkan risiko trauma pada gendang telinga ataupun menyebabkan luka pada liang telinga, sehingga menyebabkan infeksi. Pasien disarankan untuk kontrol teratur 2-4 kali pertahun untuk dilakukan pembersihan telinga. Selain itu apabila pasien merasakan gejala yang menyerupai gejala impaksi serumen (penurunan pendengaran, rasa penuh pada telinga, rasa nyeri atau gatal pada telinga, sensasi berdenging, atau pusing berputar) segera berobat ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Referensi

1.         Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia. Panduan Praktik Klinis, Panduan Praktik Klinis Tindakan, Clinical Pathway di Bidang Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher. Vol. 2. Jakarta: Pengurus Pusat PERHATI-KL; 2016.

2.         Schwartz SR, Magit AE, Rosenfeld RM, Ballachanda BB, Hackell JM, Krouse HJ, et al. Clinical Practice Guideline (Update): Earwax (Cerumen Impaction) Executive Summary. Otolaryngol - Head Neck Surg (United States). 2017;156(1):14–29.

3.         Michaudet C, Malaty J. Cerumen impaction: Diagnosis and management. Am Fam Physician. 2018;98(8):525–9.

4.         Guest JF, Greener MJ, Robinson AC, Smith AF. Impacted cerumen: Composition, production, epidemiology and management. QJM - Mon J Assoc Physicians. 2004;97(8):477–88.

 

 

 

 

 

 

 

 

Cookie membantu kami memberikan layanan kami. Dengan menggunakan layanan kami, Anda menyetujui penggunaan cookie kami.