kanker serviks

Peluang untuk Sembuh akan lebih besar jika Kanker Serviks Terdeteksi lebih awal, simak selengkapnya !

Kanker Serviks

Kanker serviks merupakan penyakit keganasan yang berasal dari serviks. Serviks ialah sepertiga bagian bawah rahim yang berhubungan dengan vagina.

Kanker serviks merupakan penyebab kanker kedua terbanyak pada wanita. Pada tahun 2018 diperkirakan 570.000 wanita menderita kanker serviks dan sekitar 311.000 meninggal akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri kanker serviks menempati urutan ke-2 dari 10 kanker terbanyak dengan insiden sebesar 12,7%. Menurut Departemen Kesehatan RI saat ini, jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100.000 penduduk dengan jumlah kasus 40.000 per tahunnya.

Kanker serviks dapat disebabkan oleh virus HPV (Human Papilloma Virus), terutama sub tipe 16 dan 18 yang umumnya ditularkan melalui hubungan seksual. Adapun faktor resiko terjadinya kanker serviks antara lain:

  • Aktivitas seksual pada usia muda
  • Berganti-ganti pasangan seksual atau berhubungan seksual dengan pria yang sering berganti pasangan
  • Merokok
  • Penyakit menular seksual
  • Gangguan imunitas

Perkembangan kanker serviks yang invasif diawali oleh adanya infeksi HPV yang kemudian berprogresi menjadi lesi prekanker. Pada umumnya, lesi prekanker ini belum memberikan gejala. Bila telah menjadi kanker yang invasif, gejala yang muncul umumnya berupa perdarahan vagina yang abonormal (contact bleeding, saat berhubungan intim), nyeri saat berhubungan, dan keputihan. Pada stadium yang lebih lanjut, gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang atau perut bagian bawah sampai dengan gangguan berkemih. Untuk mendiagnosis kanker serviks dibutuhkan pemeriksaan kondisi rahim, vagina, rectum, dan anus secara menyeluruh dan pemeriksaan penunjang tambahan seperti biopsi serviks, serta beberapa pemeriksaan lain (CT scan, MRI, PET scan, dll) untuk menentukan penyebaran dan stadium kanker serviks.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker serviks antara lain ialah dengan vaksinasi HPV dan pemeriksaan deteksi dini lesi prekanker secara rutin. Untuk mendeteksi adanya lesi prekanker pada serviks dapat dilakukan pemeriksaan skrining antara lain dengan papsmear, inspeksi visual dengan Asam Asetat (IVA) atau Lugoliodin (VILI), dan tes DNA HPV.

Rekomendasi pemeriksaan skrining untuk mendetesi lesi pada kanker serviks ialah:

  • Usia <21 tahun     : tidak perlu skrining
  • Usia 21-29 tahun : pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun
  • Usia 30-65 tahun : pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun atau pemeriksaan pap smear dan tes HPV setiap 5 tahun
  • Usia >65 tahun     : tidak perlu skrining jika hasil tes sebelumnya normal

Pengobatan kanker serviks bergantung pada stadium kanker dan kondisi pasien. Tindakan yang dilakukan untuk pengobatan kanker serviks dapat meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, ataupun kombinasi dari ketiganya. Prognosis pasien dengan kanker serviks juga bergantung pada stadium penyakitnya. Peluang untuk sembuh akan lebih besar jika kanker serviks terdeteksi lebih awal. Oleh karenanya, disarankan untuk melakukan pemeriksaan skrining kanker serviks secara rutin dan segera menemui dokter apabila Anda mengalami gejala diatas.

di tinjau oleh : dr. Ali Budi Harsono, Sp.OG,K-Onk

Referensi:

  1. Panduan Penatalaksaan Kanker Serviks. Komite Penanggulangan Kanker Nasional. Jakarta. 2017
  2. Zhang S, et al. CervicaL Cancer: Epidemiology, risk factor, dan screening. Chin J Cancer Res. 2020; 32(6): 720-728
  3. Ngoma M, et al. Cancer prevention: cervical cancer. Ecancermedicalscience. 2019; 13:952
  4. Updated Cervical Cancer Screening Guidelines. American College of Obstetricians and Gynecologist. April 2021.
  5. Boardman CH, et al. Cervical Cancer. Medscape. 2021
  6. Sachdev P. Cervical Cancer. WebMD. 2021

Categories