bayi, gigi

Bibir Sumbing pada Anak

Melahirkan seorang anak merupakan anugerah dan dambaan setiap orangtua. Umumnya pasangan akan melakukan berbagai hal untuk mempersiapkan kelahiran bayi, dan mengharapkan bayi lahir sehat dan normal ke dunia ini, sehingga jarang ditemukan orangtua melakukan persiapan untuk kejadian yang tidak sesuai harapan.

Sayangnya, tidak semua bayi lahir dengan keadaan “normal”. Ketika bayi lahir dengan sumbing atau anomaly wajah disebut kraniofasial, orangtua akan terkejut karena kelainan terdapat pada wajah bayinya yang sudah di nantikan. Akibatnya timbul rasa kekhawatiran akan kehidupan dan pergaulan sosial anak, kekhawatiran terhadap cara menyusui, dan juga perasaan bersalah sebagai orangtua.

Sumbing pada bibir atau lelangit (Cleft lip or palate, CLP) adalah kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah pada bibir atas yang sering disertai celah pada langit-langit mulut sehingga terdapat hubungan langsung antara hidung dan mulut. Kelainan ini dapat terjadi sebagai kelainan yang berdiri sendiri atau bagian dari suatu sindrom (kumpulan gejala).

Bibir dan langit-langit sumbing terjadi pada trimester pertama kehamilan, karena tidak sempurnanya penyatuan jaringan di bibir pada usia kehamilan 4-7minggu dan langit-langit di antara minggu ke-6 hingga ke-9. Kelainan sumbing ini merupakan bawaan lahir nomor empat tersering di dunia dan merupakan kelainan bawaan lahir pada wajah yang tersering.

Di Indonesia, insiden bibir sumbing terjadi sekitar 2 di setiap 1000 kelahiran bayi pada etnis asia. Separuh dari populasi bayi yang memiliki sumbing bibir juga memiliki kelainan wajah yang lebih luas. Kasus paling umum yaitu sumbing bibir dan palatum sebanyak 46%, diikuti sumbing palatum sebanyak 33%, dan sumbing bibir saja 21%. Sumbing satu sisi 9 kali lebih banyak dibandingkan sumbing dua sisi, dan sumbing pada sisi kiri dua kali lebih banyak daripada sisi kanan. Laki-laki lebih dominan mengalami sumbing bibir dan palatum, sedangkan wanita lebih sering mengalami sumbing palatum.

Tidak kenal maka tidak sayang, peribahasa ini juga sesuai dengan kondisi anak dengan sumbing. Wajar bilamana ibu kaget cemas dan bingung saat mengetahui anak sumbing. Oleh karena itu dengan lebih mengenal bibir dan lelangit sumbing, kecemasan dapat mereda ditambah didampingi oleh pakar ahli di bidangnya yang berkaitan yaitu dokter kandungan, dokter spesialis anak, dokter gigi, dokter spesialis THT, dokter rehabilitasi medik, tenaga kesehatan seperti psikiater, dan dokter bedah plastik.

 

Apa Penyebab dari Sumbing?

Bibir dan lelangit sumbing dapat terjadi karena berbagai penyebab (multifaktorial). Walaupun secara pasti etiologi belum diketahui, tetapi adanya faktor yang diperkirakan berperan pada terjadinya bibir sumbing, yaitu:

- Konsumsi obat-obatan zat teratogen seperti Fenitoin (obat epilepsi), Thalidomide, Isotretinoin (obat jerawat) selama kehamilan

- Kekurangan gizi selama kehamilan asam folat, vitamin B6 dan Zinc selama kehamilan

- Konsumsi alkohol dan merokok selama kehamilan (dapat meningkatkan risiko sebanyak 10 kali lipat)

 

Sedangkan beberapa faktor risiko yang meningkatkan terjadi nya bibir sumbing dan lelangit:

- Etnik/ras asia lebih sering terjadi dibanding kaukasia

- Riwayat sumbing pada orang tua/keluarga.

- Riwayat penyakit keluarga

- Usia orang tua; risiko meningkat apalabila kedua orangtua berusia lebih dari 30 tahun

 

Apa Saja Gangguan Penyertanya?

- Adanya celah pada bibir maupun palatum dapat menimbulkan gangguan fungsi yang biasanya menyertai

- Kesulitan asupan nutrisi (gangguan celah menyebabkan bayi sulit menghisap atau makan makanan cair, yang kemudian menimbulkan masalah lain yaitu kekurangan gizi)

- Gangguan bicara, akibat penurunan fungsi otot bicara sehingga berpengaruh terhadap pola bicara

- Gangguan pertumbuhan tulang muka dan gigi

- Infeksi telinga berulang akibat pendeknya saluran tuba eustachius dan abnormalitas otot -otot langit mulut

- Kondisi kelainan lain yang berhubungan misal pada sindrom pierre robin

 

Bagaimana Tatalaksana Bibir Sumbing?

Sahabat Hermina tidak perlu cemas. Kemajuan dunia kedokteran akan membantu anak tumbuh dan berkembang optimal, sehingga dapat menjadi manusia yang produktif. Semakin dini anak dengan sumbing di konsultasikan, makan semakin baik. Karena diperlukan proses tata laksana yang bertahap. Tatalaksana anak dengan sumbing berdasarkan pendekatan berbagai disiplin ilmu (multidisciplinary approach).

 

Pemberian makan-minum (feeding)

Bayi dengan sumbing bibir dan langit-langit memiliki celah antara rongga mulut dan rongga hidung, yang mengakibatkan bayi kesulitan menyedot susu dari botol atau ASI dari Ibu dengan baik. Maka dibutuhkan dot khusus yang dapat membantu bayi meminum susu/ASI dengan baik.

Bayi dengan sumbing bibir saja masih dapat menyedot secara normal pada payudara dan dot.

Bayi masih dapat mengendalikan aliran ASI dan posisi payudara dalam mulutnya. Semakin cepat proses menyusui dimulai, maka bayi dapat lebih menyesuaikan diri. Refleks menutup glottis-saluran napas pada bayi masih bergungsi normal jadi tidak khawatir akan tersedak. Bila ada ASI/susu masuk ke dalam hidung maka refleks akan memuntahkan susunya saat itu timbul, ibu dapat lepaskan dot dan miringkan posisi anak.

Oleh karena itu, langkah-langkah menyusui bayi sumbing perlu diperhatikan adalah:

- Pada saat menyusui, bayi dalam posisi duduk dengan badan sedikit tegak sekitar 45 derajat , untuk mencegah ASI/susu mengalir ke dalam hidung.

- Menjaga posisi botol agar tetap terangkat, sehingga bagian puting botol tetap terus terisi oleh ASI/susu.

- Pada saat bayi sedang menyusui, dapat terjadi keluarnya susu/ASI melalui hidung. Oleh karena itu, tidak perlu panik. Posisikan bayi lebih tegak lagi. Jumlah susu yang keluar melalui hidung akan berkurang. Bayi akan batuk untuk membersihkan hidung.

- Pada saat menyusui, bayi perlu sering sendawa. Lakukan hal tersebut dengan menggendong bayi secara tegak dan menepukkan punggung bayi dengan pelan. Lakukan hal tersebut 2-3 kali setiap bayi menyusui.

- Waktu yang dibutuhkan untuk menyusui adalah 30-45 menit setiap kalinya. Jumlah susu/ASI yang diberikan adalah sebanyak 60-90 ml tergantung kesanggupan anak setiap kali menyusui.

- Menyusui yang baik adalah sebanyak 6-8 kali setiap harinya.

 

Pemasangan Plester dan NAM (Nasoalveolar Molding)

Nasoalveolar Molding (NAM) adalah metode pasif nonbedah yang digunakan untuk mendekatkan segmen gusi dari tulang rahang atas, mendekatkan celah bibir, membentuk cuping hidung sebelum operasi, dan secara signifikan akan membuat hasil operasi menjadi lebih baik. Pemasangan NAM dimulai secepatnya setelah lahir sekitar 1 minggu, bila terjadi kegagalan pembuatan atau pemasangan NAM, pemasangan plester untuk tujuan diatas dapat menolong mendekatkan gap dan mencuatnya premaksila-prolabium (bagian tengah bibir) pada sumbing bilateral.

 

Masih banyak lagi edukasi mengenai bibir dan langit sumbing mulai dari tata laksana perawatan gigi geligi, perawatan dan komplikasi pasca operasi labioplasty dan palatoplasty, masalah dan tatalaksana telinga dan pendengaran, masalah berbicara ada anak sumbing.

Namun, ayah dan bunda tidak perlu khawatir dengan ilmu yang telah berkembang saat ini. Konsultasi dan berobatlah ke tim ahli RS Hermina Podomoro, ayah bunda akan dapat mengembalikan senyuman anak yang lebar dan indah seperti keinginan bersama.

 

Categories