tumor, nasofaring

Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel nasofaring dengan predileksi tersering pada fossa Rosenmuller. Karsinoma nasofaring menempati urutan ke-23 dari seluruh kanker ganas di dunia, kelima dari seluruh kanker ganas di Indonesia, dan berada diurutan pertama pada kanker ganas yang menyerang kepala dan leher, terutama di Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher (THT-KL). Insidensi KNF di Indonesia mencapai 4,7 per 100.000 penduduk pertahun, tertinggi pada dekade 4-5 dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan yaitu 2-3:1.

 

Karsinoma nasofaring bisa disembuhkan, apalagi bila terdeteksi lebih dini. Namun, tindakan yang dilakukan untuk mengobati karsinoma nasofaring bisa berbeda-beda, tergantung pada riwayat penyakit, stadium kanker, letak kanker, dan kondisi pengidap secara umum. kanker nasofaring terbilang lebih berbahaya jika tidak segera ditangani atau tidak mendapatkan penanganan dengan benar. Karsinoma nasofaring bisa menyerang saluran pernapasan di bagian atas tenggorokan dan belakang hidung.

 

Karsinoma nasofaring terjadi akibat interaksi antara faktor genetik, infeksi virus Epstein Barr (VEB), faktor lingkungan seperti terpapar zat karsinogen, merokok, alkohol, genetik dan faktor makanan seperti mengonsumsi ikan asin yang mengandung nitrosamine.

 

Karsinoma nasofaring sulit untuk didiagnosis secara dini, karena letaknya tersembunyi sehingga penderita tidak segera datang untuk berobat. Gejala KNF adalah hidung tersumbat dan beringus, mimisan, timbul cairan di telinga tengah, telinga terasa penuh, telinga berdenging, gangguan pendengaran sedangkan pada stadium lanjut dapat ditemukan benjolan pada leher, penglihatan ganda, dan terjadi gangguan saraf.

 

Diagnosis KNF dapat ditunjang oleh pemeriksaan nasoendoskopi, pemeriksaan pencitraan dengan Computed Tomography (CT) Scan atau Magnetic Resonance Imaging (MRI). Pemeriksaan histopatologi biopsi nasofaring merupakan standar baku untuk menegakkan diagnosis. Selain biopsi nasofaring, cara lain pengambilan bahan untuk pemeriksaan histologi yaitu cucian, hisapan, dan sikatan nasofaring.

 

Pada dasarnya modalitas terapi KNF dapat berupa radioterapi, kemoterapi, operasi atau kombinasi. Untuk stadium awal, bisa dilakukan radioterapi saja. Namun bila sudah pada stadium lanjut, diperlukan kemoterapi atau kombinasi.

 

Prognosis KNF tergantung dari beberapa faktor yaitu agresifitas sel tumor, yang dinilai berdasarkan perluasan tumor, penyebaran ke KGB leher, dan metastasis jauh, serta karakteristik penderita yaitu usia, ras, dan jenis kelamin. Klasifikasi histopatologi KNF berdasarkan World Health Organization (WHO) juga ikut memengaruhi prognosis.

Categories