seranganjantung

KENALI CIRI – CIRI SAKIT JANTUNG YANG HARUS DIKETAHUI

KENALI CIRI – CIRI SAKIT JANTUNG YANG HARUS DIKETAHUI

Salah satu personel band legendaris di Indonesia Kahitna, kehilangan salah satu vocalist terbaiknya secara mendadak, menurut kabar yang beredar Carlo Saba meninggal karena serangan jantung. Semakin sering tersiar di media sosial ataupun media elektronik artis dengan usia masih muda meninggal karena serangan jantung. Sebenarnya tidak hanya artis, di kehidupan masyarakatpun banyak sekali yang meninggal mendadak karena serangan jantung.

Pengertian Serangan Jantung

Serangan jantung, atau yang juga dikenal sebagai infark miokard, merupakan kondisi yang terjadi ketika aliran darah ke jantung sangat berkurang atau tersumbat. Penyumbatan aliran darah ke jantung dapat terjadi akibat penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di dalam arteri jantung (koroner). 

Penyebab Serangan Jantung

Dalam kebanyakan kasus, serangan jantung terjadi karena penyumbatan di salah satu pembuluh darah yang memasok jantung. Hal tersebut seringkali terjadi karena adanya plak, zat lengket yang dapat menumpuk di bagian dalam arteri. Sementara itu, penumpukan plak disebut aterosklerosis. 

Terkadang, endapan plak di dalam arteri koroner (jantung) dapat pecah, sehingga bekuan darah dapat tersangkut di tempat terjadinya pecah. Apabila bekuan darah menyumbat arteri, maka otot jantung tidak memiliki darah sehingga menyebabkan serangan jantung. 

Faktor Risiko Serangan Jantung

Sementara itu, beberapa faktor risiko dapat memicu serangan jantung. Di antaranya:

  • Usia. Pria berusia 45 tahun keatas dan wanita berusia di atas 55 tahun lebih mungkin mengalami serangan jantung, dibandingkan pria dan wanita yang lebih muda.
  • Merokok. Gaya hidup merokok dan sering terpapar asap rokok dalam jangka panjang dapat memicu serangan jantung. 
  • Hipertensi. Sering waktu, tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat merusak arteri yang menuju ke jantung. Tekanan darah tinggi yang diakibatkan kondisi lain, seperti obesitas, kolesterol tinggi, atau diabetes, meningkatkan risiko serangan jantung lebih tinggi lagi.
  • Kolesterol atau trigliserida tinggi. Kondisi tubuh dengan kolesterol low density lipoprotein (LDL) tinggi (kolesterol jahat) kemungkinan besar akan mempersempit arteri. Selain itu, tingginya lemak darah (trigliserida) juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung. 
  • Obesitas. Kegemukan atau obesitas berkaitan dengan tekanan darah tinggi, diabetes, kadar trigliserida dan kolesterol LDL yang tinggi. Semua faktor tersebut dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
  • Sindrom metabolik. Kondisi ini terjadi karena kombinasi dari obesitas sentral, tekanan darah tinggi, dan kolesterol “baik” HDL rendah, trigliserida tinggi, dan gula darah tinggi. Orang yang memiliki sindrom metabolik, memiliki risiko 2 kali lebih mungkin terkena penyakit jantung dibandingkan orang yang sehat.
  • Riwayat keluarga. Jika kamu memiliki saudara kandung, orang tua, atau kakek-nenek, yang mengalami serangan jantung, kamu pun mungkin berisiko tinggi.
  • Kurang berolahraga. Jarang melakukan aktivitas fisik juga berkaitan dengan risiko tinggi serangan jantung. Nyatanya, olahraga teratur dapat meningkatkan kesehatan jantung.
  • Pola makan yang tidak sehat. Mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gula, lemak hewani, lemak trans, dan garam dapat meningkatkan risiko serangan jantung. 

Serangan jantung mendadak Sebagian besar disebabkan oleh penaykit jantung koroner, penyakit jantung koroner umumnya ditandai oleh rasa tidak nyaman, nyeri, atau rasa tertekan di bagian dada. Selain itu, penyakit jantung koroner juga dapat menimbulkan beberapa ciri-ciri sakit jantung lain, seperti:

  • Lemas dan pusing
  • Keringat dingin
  • Mual
  • Sesak napas

Untuk mencegah penyakit jantung, disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bernutrisi, membatasi asupan lemak dan garam, berhenti merokok, berolahraga secara rutin, serta mengelola stres dengan baik.

Jika memiliki faktor risiko penyakit jantung atau merasakan ciri-ciri sakit jantung, konsultasikan ke dokter untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Categories