urologi, prostat

Persiapan Operasi BPH (Benign Prostatic Hyperplasia)

Sahabat Hermina, kelenjar prostat merupakan salah satu bagian dari alat reproduksi pada pria yang terletak di bawah kandung kemih pria dan seiring dengan bertambahnya umur, akan membesar. Benign prostatic hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak dianggap sebagai bagian dari proses pertambahan usia, seperti halnya rambut menjadi putih. Oleh karena itulah, dengan meningkatnya usia harapan hidup, meningkat pula prevalensi BPH. Angka kejadian BPH yang simptomatik (bergejala) pada pria umur 40-49 tahun mencapai hampir 15%. Angka ini meningkat dengan bertambahnya usia, sehingga pada usia 50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir 25% pada usia 60 tahun 43% dan hingga 90% pada pria diatas 80 tahun.

Dalam penatalaksanaannya, selain menggunakan obat-obatan, terdapat pula pilihan pembedahan sebagai opsi terapi. Terdapat dua jenis operasi prostat yang dapat direkomendasikan oleh dokter, yaitu TURP (transurethral resection of the prostate) dan prostatektomi radikal. Berikut penjelasannya:

  • TURP (transurethral resection of the prostate)

TURP umumnya dilakukan pada pasien-pasien dengan gangguan berkemih akibat dari pembesaran prostat jinak/benign prostatic hyperplasia (BPH), yang menyebabkan lumen saluran kencing menjadi sempit sehingga mengganggu aliran kencing. Pada TURP, dilakukan pengerokan bagian dalam prostat yang menyumbat aliran urine, dengan harapan urine bisa mengalir lancar kembali.

  • Prostatektomi Radikal

Prostatektomi radikal, ditujukan untuk terapi pada kanker prostat, dimana proses pembedahan meliputi pengangkatan seluruh jaringan prostat, vesikula seminalis, dan kelenjar getah bening di sekitarnya.

Persiapan Operasi Prostat

Untuk persiapan operasi, pasien akan dilakukan tes darah, tes pancaran kencing (uroflowmetry), dan pemeriksaan imaging (baik USG maupun MRI). Pasien akan dipersiapkan secara optimal dengan mengkonsultasikan pasien ke bagian jantung, paru, penyakit dalam, dan anestesi. Pasien akan dipuasakan 6 jam sebelum operasi untuk syarat pembiusan, dan diberikan antibiotik sebagai upaya pencegahan infeksi.

Prosedur Operasi Prostat

Pembiusan dapat berupa bius umum (general anesthesia) atau spinal (setengah badan) tergantung pada jenis operasi dan arahan dari Dokter Anestesi.

Operasi TURP dilakukan tanpa sayatan pada luar tubuh. Pada TURP, alat yang dilengkapi dengan kamera akan dimasukkan melalui lubang kencing untuk mengevaluasi kondisi bagian dalam saluran kencing hingga ke kandung kemih. Lalu, setelah menilai pembesaran prostat, bagian dalam prostat akan dikerok hingga lumen saluran menjadi terbuka kembali dan aliran urin bisa keluar lancar. Potong jaringan prostat yang sudah dikerok, akan diperiksakan ke Patologi Anatomi, untuk menilai jaringan apakah jinak atau ganas.

Pada prostatektomi radikal, setelah dilakukan pengangkatan prostat, vesikula seminalis, dan kelenjar getah bening di sekitarnya, saluran kencing akan dijahitkan kembali ke kandung kemih. Jaringan prostat yang sudah diangkat, akan diperiksakan juga ke Patologi Anatomi.

Setelah Operasi Prostat

Secara umum, setelah menjalani operasi, Dokter akan mengevaluasi keluhan subjektif pasien setiap hari, seperti demam/mual/muntah/nyeri, dan apakah aliran kateter lancar/disertai darah. Pasien yang sudah menjalani operasi prostat akan diberikan obat penahan rasa sakit, antibiotik, serta obat tambahan lainnya (seperti obat mual).

Pasien post TURP, akan dievaluasi selama beberapa hari dan akan dicoba lepas kateter pada hari ke-3 untuk tes kencing spontan. Diharapkan jika pasien dapat kencing spontan setelah operasi, pasien diperbolehkan rawat jalan, dan akan dievaluasi kembali melalui poli rawat jalan 1 minggu setelah operasi. Pada pasien yang tidak berhasil kencing spontan, akan dipasang kateter kembali, dan akan dievaluasi melalui poli rawat jalan mengenai kemungkinan adanya faktor selain prostat yang mengganggu fungsi berkemih, seperti gangguan persarafan.

Pada pasien post prostatektomi radikal, pasien akan dipasang kateter selama masa penyembuhan, yaitu perkiraan 2 minggu, dan pulang dari perawatan dengan membawa pulang kateter. Selanjutnya, kateter akan dilepas bersamaan dengan evaluasi sambungan luka operasi dengan menggunakan studi kontras dan x-ray.

Nah Sahabat Hermina, penting sekali untuk memeriksakan diri ke Dokter jika mengalami gangguan berkemih untuk mengevaluasi prostat. Dengan mengenali gejala-gejala gangguan prostat, Dokter dapat melakukan evaluasi dan perencanaan dan pentalaksaan yang tepat. Salam sehat.

Categories