saraf, lansia, ayah dan ibu

Stroke dan Gangguan Fungsi Kognitif

Stroke adalah suatu keadaan ketika terdapat tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal atau global, dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler (WHO, 2006). Stroke dapat dibagi menjadi dua kategori utama yaitu stroke perdarahan dan stroke iskemik. Dua kategori ini merupakan suatu kondisi yang berlawanan.

Pada stroke hemoragik, kranium yang tertutup mengandung darah terlalu banyak, sedangkan pada stroke iskemik terjadinya gangguan ketersediaan darah pada suatu area di otak dengan kebutuhan oksigen dan nutrisi area tersebut. Setiap kategori dari stroke dapat dibagi menjadi beberapa subtipe, yang masing-masing mempunyai strategi penanganan yang berbeda (Gofir, 2011).

Stroke merupakan salah satu sindrom neurologi yang merupakan ancaman terbesar dalam menimbulkan kecacatan dalam kehidupan manusia. Stroke menempati urutan ketiga penyebab kematian di Amerika Serikat setelah penyakit jantung dan kanker. Data dunia yang banyak dipublikasikan adalah data dari studi Framingham, yang merupakan pengamatan setiap 2 tahun selama 36 tahun (mulai 1950) pada 5.070 pria dan wanita yang tidak berpenyakit kardiovaskuler, berusia 30-62 tahun. Selama pengamatan tersebut didapatkan kasus stroke dan transient ischemic attack (TIA) sebanyak 693 orang (Misbach, 2011).

Stroke merupakan masalah kesehatan utama di dunia karena menjadi penyebab kematian ketiga di dunia dan menjadi penyebab pertama kecacatan (Gofir, 2011). Kemajuan teknologi kedokteran telah berhasil menurunkan angka kematian akibat stroke. Namun, angka kecacatan pasca stroke tetap bahkan cenderung meningkat. Kecacatan pasca stroke dapat berupa gangguan motorik, sensorik, otonom, maupun kognitif (Misbach, 2011).

Stroke menjadi penyebab utama kecacatan fisik, neuropsikiatri, dan neuropsikologi jangka panjang dan memiliki dampak besar terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari. Delapan puluh lima persen orang yang selamat dari stroke akan kembali ke rumah. Stroke dapat mengakibatkan berbagai defisit yang mempengaruhi fungsi kognitif, tidak hanya pada fase akut tetapi juga dalam jangka panjang. Bila defisit kognitif tidak diidentifikasi dan dikompensasi, hal tersebut dapat menyebabkan pembatasan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (Oros RI, et al, 2016).

Gangguan kognitif pasca stroke seringkali kurang diperhatikan pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan yang merawat, karena tidak menonjol atau kurang bisa dikenali dibandingkan dengan defisit neurologis lainnya. Namun demikian, gangguan kognitif secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderita stroke (Legge S D, et al, 2010).

Pasca stroke, sebanyak 55% orang mengalami defisit memori episodik, 40% menunjukkan defisit fungsi eksekutif dan 23% dengan defisit bahasa. Selain itu, defisit dalam memori episodik, fungsi eksekutif, perhatian visual dan bahasa dikaitkan dengan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari/ ADL (activities of daily living) dan IADL (instrumental activities of daily living). Dengan demikian stroke menyebabkan sejumlah defisit kognitif yang memiliki dampak signifikan pada kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari (Oros RI, et al, 2016).

Kejadian defisit kognitif meningkat tiga kali lipat setelah stroke dan sekitar 25% pasien stroke berkembang menjadi demensia. Beberapa pasien sembuh total dari cacat fisik setelah stroke namun seringkali tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena penurunan nilai kognitif.

Penurunan angka kematian akibat stroke mengakibatkan peningkatan gangguan kognitif pasca stroke, sehingga meningkatkan secara signifikan biaya perawatan kesehatan. Presentasi klinis kelainan kognitif pasca stroke bervariasi dari defisit neurologis fokal sampai keseluruhan disfungsi kognitif. Pengujian dan penilaian fungsi kognitif seringkali cukup sulit karena secara umum kurang menerima definisi gangguan kognitif dan kurang informasi tentang keadaan kognitif pasien sebelum stroke.

Memahami hubungan kompleks antara stroke dan defisit kognitif secara lebih baik mungkin memberikan pilihan tambahan pencegahan terhadap gangguan kognitif pasca stroke. Identifikasi faktor risiko penurunan kognitif pada fase akut stroke adalah pendekatan yang baik dalam deteksi dini pasien dengan peningkatan risiko kerusakan kognitif dan merupakan usaha dalam pencegahan perkembangan gangguan kognitif pasca stroke (Danovska M, et al, 2012).

Gangguan kognitif pasca stroke termasuk dalam satu kelompok gangguan kognitif yang disebut dengan Vascular Cognitive Impairment (VCI) yang meliputi gangguan kognitif ringan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari (Vascular Cognitive Impairment No Dementia = VCIND) sampai paling berat berupa demensia vaskular.

Gangguan kognitif dapat mengenai satu atau lebih domain kognitif seperti atensi, bahasa, memori, visuospasial dan fungsi eksekutif (Legge S D, et al, 2010). Perkembangan menjadi demensia vaskular mencapai 20% dalam 1 tahun pertama setelah stroke (Pendlebury ST, et al, 2009).

Ada banyak faktor risiko yang memengaruhi terjadinya gangguan kognitif pasca stroke. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi keparahan gangguan kognitif pada pasien stroke. Faktor risiko tersebut meliputi faktor demografi dan faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Faktor demografi meliputi usia lanjut, sifat genetik, pendidikan yang rendah, karakteristik dari stroke (meliputi: TIA, stroke berulang, multipel infark, lokasi infark yang strategis, keparahan stroke) serta neuroimaging lesi otak (meliputi: infark otak silent, lesi white matter, atrofi lobus temporal, dan cerebral microbleeds). Adapun faktor risiko yang bisa dimodifikasi yang mempengaruhi gangguan kognitif pasca stroke meliputi hipertensi, atrial fibrilasi, DM tipe 2, dislipidemia, cardiac and carotid artery diseases, high homocysteine, obesitas, dan sindrom metabolik (Kalaria RN, et al, 2016).

Skrining fungsi kognitif pasca stroke sangat diperlukan untuk mengetahui adanya gangguan kognitif yang akan berpengaruh pada kemampuan melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Dengan mengetahui gangguan kognitif pada pasien pasca stroke lebih dini, maka dapat dilakukan upaya untuk mencegah terjadinya perburukan kondisi kognitif pasien dan akhirnya dapat memperbaiki kualitas hidup pasien pasca stroke.

Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-INA) adalah salah satu alat skrining singkat yang dirancang secara original untuk mengidentifikasi gangguan kognitif pada pasien di klinik memori. MoCA terdiri dari satu lembar halaman pemeriksaan, 30 point tes, dilakukan kurang lebih 10 menit, dan item yang dievaluasi adalah: kemampuan visuospasial, fungsi eksekutif, recall memori jangka pendek, atensi, konsentrasi, memori kerja, bahasa, dan orientasi waktu serta tempat. Pemeriksaan MoCA-INA ini sangat mudah dilakukan di poliklinik dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui adanya gangguan kognitif pada pasien pasca stroke. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan tersebut dapat mengetahui apakah fungsi kognitif pada pasien normal atau terdapat gangguan yang ringan hingga berat. Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara berkala setiap 6 bulan untuk mengevaluasi fungsi kognitif pasien pasca stroke.

Berdasarkan hasil pemeriksaan MoCA-INA dokter dapat memberikan edukasi mengenai langkah-langkah pencegahan perburukan fungsi kognitif dan dapat memberikan terapi medikamentosa yang sesuai apabila sudah dirasa perlu. Adapun cara yang paling mudah dilakukan di rumah pada pasien pasca stroke untuk mencegah perburukan fungsi kognitif yaitu dengan tetap membiarkan pasien bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, memberikan dorongan semangat kepada pasien agar selalu optimis dalam menjalani hidup, serta melakukan aktivitas yang dapat menstimulasi kognitif.

Aktivitas yang dapat menstimulasi kognitif tersebut antara lain adalah kegiatan berupa:

- Permainan halma, catur, teka-teki silang, kartu, atau sudoku secara teratur

- Kegiatan memasak mandiri

- Mengerjakan hobi

- Membaca buku, majalah, koran, menonton siaran berita, atau menonton siaran televisi/ bioskop

Selain itu asupan nutrisi yang bergizi, berolah raga secara rutin, serta menjaga tekanan darah agar tetap normal dan berhenti merokok juga harus dilakukan. Dan yang tidak kalah penting yaitu jangan lupa untuk kontrol rutin dan mengonsumsi obat stroke secara teratur sesuai anjuran dari dokter spesialis saraf.

Categories